Di sore yang menggantung antara terang dan hujan, langit seolah sedang berpikir keras. Awan-awan kelabu berkumpul seperti ingatan yang belum selesai. Ada yang berat, ada yang perlahan luruh menjadi cahaya. Di bawahnya, air terhampar tenang seperti hati yang belajar menerima apa pun yang jatuh ke dalamnya. Di tepi tambak, sebuah pendopo berdiri diam. Ia tak bicara, tak bergerak, hanya setia menemani waktu. Setiap hari, ia menyaksikan manusia datang dengan rindu, pulang dengan lega, atau kadang pergi membawa tanya. Sore itu, seorang lelaki duduk sendirian. Ia tak sedang menunggu siapa pun. Ia sedang menunggu dirinya sendiri. Menunggu pikirannya berhenti berlari. Menunggu hatinya berhenti menuntut. Menunggu napasnya kembali pulang. Ia memandang pantulan awan di air. Aneh, pikirnya. Langit yang tampak kacau di atas, terlihat jauh lebih damai di bawah. “Mungkin,” bisiknya, “hidup juga begitu. Tidak perlu selalu diperbaiki. Kadang cukup dipantulkan… lalu disadari.” Angin bergerak pelan. Riak kecil muncul, lalu hilang. Seperti masalah yang datang sebentar, lalu larut jika tak dilawan. Di kejauhan, burung melintas. Awan mulai membuka celah cahaya. Tidak besar. Tidak dramatis. Tapi cukup. Cukup untuk mengingatkan: bahwa gelap tak pernah benar-benar berniat tinggal selamanya. Sore pun berjalan pergi. Dan lelaki itu pulang, bukan dengan jawaban, melainkan dengan ketenangan. Karena dia tahu: tak semua hal harus dimengerti, beberapa hanya perlu dihadiri.