Activity
Mon
Wed
Fri
Sun
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
Jan
Feb
What is this?
Less
More

Memberships

BerkembangBersama

58 members • Free

6 contributions to BerkembangBersama
Aku Membesarkan Anak, Sambil Membesarkan Diriku Sendiri
Jujur aja… aku membesarkan mereka sambil membesarkan diriku sendiri. 🥹☺️ 20 tahun bayangin, bahkan saat aku gendong bayi Dhia sering dikatain "Anak kecil gendong anak kecil" 😂 Hari-hari awal jadi ibu itu nggak romantis seperti di film. Aku masih sangat muda. Bingung. Takut. Capek. Tapi harus kelihatan “kuat” karena ada dua anak kecil yang bergantung padaku. Mereka yang nemenin aku di fase itu. Saat aku belum tahu caranya jadi orang tua, belum paham soal luka batin, bahkan belum sempat mengenal diriku sendiri secara utuh. Nggak ada yang ngajarin gimana caranya mengasuh anak sambil mengasuh diri sendiri. Nggak ada buku panduan tentang gimana caranya nggak ngulang pola yang dulu bikin aku terluka. Nggak tau bagaimana memeluk luka batin, bahkan 'emosi' pun aku tak bisa menamainya dengan benar. Nggak ada yang ngasih tahu kalau mengekspresikan emosi itu boleh. Aku sering salah. Sering capek. Kadang emosiku berantakan. Tapi di tengah semua itu, aku bertekad: inner child, patriarki... cukup berhenti di aku. Kalau hari ini aku belajar lebih mindful, lebih sadar, dan lebih mau minta maaf, itu karena aku mau mereka tumbuh tanpa beban yang sama. Terima kasih sudah tumbuh bareng ibu. Terima kasih sudah nemenin aku belajar, jatuh, lalu bangun lagi. Kita nggak sempurna, tapi kita sama-sama berusaha. Dan itu… sudah lebih dari cukup. 🤍
Aku Membesarkan Anak, Sambil Membesarkan Diriku Sendiri
0 likes • 1d
Semangat bertumbuh 💪🏻🤍 Love you ❤️🤗😘
Bukan menambah disiplin
Melainkan kurangi beban dalam mengambil keputusan.. ❌ Setiap senin 500 kata blog (disiplin) ✅ Menulis blog 75 kata (mengurangi beban action)
Bukan menambah disiplin
0 likes • 7d
Terima kasih pak Rahmad, saya jadi bisa tidur jam 10 😃😂😅
Menakjubkan
Di sebuah ruangan yang berisi lebih dari lima ribu orang, dengan suasana ingar-bingar. Di tempat duduk, aku merasakan tubuhku mulai lemas. Suhu tubuh perlahan naik. Aku demam. Aku tidak boleh pingsan disini. Ini konyol. Ku lipat kedua tangan, membentuk posisi bersedekap. Menutup mata. Mengatur nafas. Perlahan tapi pasti, aku memasuki keheningan. Suara-suara mulai terasa jauh, hingga senyap. Entah berapa lama, ketika membuka mata kembali. Tubuhku sudah tidak demam lagi. Aku baik-baik saja. Tiba saat pembagian nasi box. Temanku ada yang tidak kebagian. Aku berikan jatah nasiku padanya. Kemudian aku keluar gedung untuk membeli nasi, sebagai ganti nasi yang telah ku berikan pada temanku tadi. Suasana sangat crowded. Di sepanjang jalan aku terheran. Kemana diriku yang lemas dan tidak berdaya tadi? Yang demam dan hampir pingsan. Sekarang, aku bahkan punya tenaga untuk berjalan jauh —menerobos ratusan atau mungkin ribuan orang— untuk menjemput nasiku. Ah, ini menakjubkan!
4
0
Menakjubkan
Melepaskan Anak, Melepaskan Inner child
Saat menjadi ibu, aku juga belajar “melepaskan.” Gak cuma melepaskan tangan kecil yang dulu selalu menggenggamku, tapi juga melepaskan ketakutan lama yg pernah kupeluk erat. Akram, anak laki-lakiku beranjak remaja. Ia sudah berani solo traveling. Tapi gak banyak yang tahu, keberanian itu lahir dari satu keputusan kecil bertahun-tahun lalu. Saat dia masih kelas 4 SD, aku menguatkan hati membiarkannya naik kereta jarak jauh sendirian (ke rumah Simbahnya). Sejak saat itu, suara-suara pun datang. “Tega banget ya…” “Masih kecil loh, kok dilepas sendirian?” “Kalau aku mah nggak tega.” “Anak laki-laki itu tetap anak, bahaya.” Aku hehe-in aja. Dan aku mendengar semuanya. Tapi tak ada yang tahu (sebelum kucerita ini), bahwa keputusan itu bukan soal tega atau gak tega. Ini tentang melawan ketakutanku sendiri. Aku pernah menjadi anak yang tak pernah diberi ruang mencoba. Aku pernah ada masa dibesarkan dengan kalimat, “Jangan jauh-jauh.” “Bahaya.” “Nanti kenapa-kenapa.” Dan tanpa sadar, aku hampir mewariskan rasa takut itu pada anakku. Hari itu aku duduk lama, berdialog dengan inner child-ku sendiri. Anak kecil di dalam diriku menangis, takut ditinggal, takut salah, takut dunia. Aku menggenggam luka itu, lalu berkata pelan: “Sekarang aku ibu.Aku aman.Dan anakku juga aman.” Aku melepas—bukan karena aku tega, tapi karena aku percaya. Percaya pada proses. Percaya pada anakku. Dan akhirnya… percaya pada diriku sendiri. Hari ini,anak laki-lakiku berjalan dengan langkah yakin, bermain dengan keberanian yang sehat. Dan aku belajar satu hal penting: yang perlu dilepasin bukan anak, tapi luka masa kecil diri sendiri.
0 likes • 13d
Keren. Terima kasih telah menjadi seorang ibu yang luar biasa ❤️🤗😘
Gelembung Bahagia
Aku, dengan segala sukacita. Terkadang seperti melepas, kemudian menangkap gelembung di udara. Sedikit berlari, senyum dan tawa. Terkadang gelembungnya jatuh ke mata, dan terasa perih. Namun aku bahagia.
5
0
Gelembung Bahagia
1-6 of 6
Lia Anggraeni
2
12points to level up
@lia-anggraeni-1496
Liemawon

Active 3h ago
Joined Jan 16, 2026