User
Write something
Ruang Sunyi
Di sebuah ruang tinggi dengan jendela-jendela besar yang menghadap kota, waktu seolah berjalan lebih lambat. Langit menggantung kelabu, awan berarak pelan seperti pikiran-pikiran yang belum selesai. Meja-meja kayu berdiri rapi, kursi-kursi menunggu tanpa suara. Tidak ada riuh, tidak ada tergesa. Hanya keheningan yang setia menemani. Di tempat itu, banyak orang pernah duduk membawa cerita masing-masing. Ada yang datang dengan harapan, menatap keluar sambil membayangkan masa depan. Ada yang datang dengan luka, menyembunyikannya di balik secangkir kopi hangat. Ada pula yang hanya ingin berhenti sejenak, melepaskan dunia yang terlalu bising. Ruang ini bukan sekadar kafe. Ia adalah persinggahan batin. Di balik kaca, kota terus bergerak: kendaraan berlomba, manusia berkejaran, ambisi berteriak. Namun di dalam sini, semua itu meredup. Seolah tempat ini berbisik: “Tak apa jika kau lelah. Tak apa jika kau belum tahu arah. Tak apa jika hari ini kau hanya ingin diam.” Lantai kayu menyimpan langkah-langkah yang pernah ragu. Kursi-kursi menyimpan doa-doa yang tak terucap. Jendela-jendela menyimpan pandangan orang-orang yang sedang belajar menerima hidup apa adanya. Dan langit di luar sana kadang cerah, kadang muram seperti hati manusia: tak pernah selalu sama, namun selalu layak dihargai. Di suatu sore, seseorang duduk sendiri di sudut ruangan. Bukan karena kesepian, melainkan karena sedang berdamai. Ia tak lagi menuntut jawaban. Tak lagi memaksa keadaan. Ia hanya bernapas, memandang jauh, dan mengizinkan dirinya hadir sepenuhnya. Saat itu, ia sadar: Hidup bukan tentang selalu terang. Bukan tentang selalu menang. Melainkan tentang berani duduk di tengah ketidakpastian, dan tetap memilih untuk percaya. Bahwa setelah mendung, selalu ada ruang bagi cahaya. Bahwa setelah lelah, selalu ada tempat untuk pulang entah di sebuah tempat sunyi, atau di dalam hati sendiri.
2
0
Ruang Sunyi
Menyambut Senja
Di sore yang menggantung antara terang dan hujan, langit seolah sedang berpikir keras. Awan-awan kelabu berkumpul seperti ingatan yang belum selesai. Ada yang berat, ada yang perlahan luruh menjadi cahaya. Di bawahnya, air terhampar tenang seperti hati yang belajar menerima apa pun yang jatuh ke dalamnya. Di tepi tambak, sebuah pendopo berdiri diam. Ia tak bicara, tak bergerak, hanya setia menemani waktu. Setiap hari, ia menyaksikan manusia datang dengan rindu, pulang dengan lega, atau kadang pergi membawa tanya. Sore itu, seorang lelaki duduk sendirian. Ia tak sedang menunggu siapa pun. Ia sedang menunggu dirinya sendiri. Menunggu pikirannya berhenti berlari. Menunggu hatinya berhenti menuntut. Menunggu napasnya kembali pulang. Ia memandang pantulan awan di air. Aneh, pikirnya. Langit yang tampak kacau di atas, terlihat jauh lebih damai di bawah. “Mungkin,” bisiknya, “hidup juga begitu. Tidak perlu selalu diperbaiki. Kadang cukup dipantulkan… lalu disadari.” Angin bergerak pelan. Riak kecil muncul, lalu hilang. Seperti masalah yang datang sebentar, lalu larut jika tak dilawan. Di kejauhan, burung melintas. Awan mulai membuka celah cahaya. Tidak besar. Tidak dramatis. Tapi cukup. Cukup untuk mengingatkan: bahwa gelap tak pernah benar-benar berniat tinggal selamanya. Sore pun berjalan pergi. Dan lelaki itu pulang, bukan dengan jawaban, melainkan dengan ketenangan. Karena dia tahu: tak semua hal harus dimengerti, beberapa hanya perlu dihadiri.
3
0
Menyambut Senja
Bukan menambah disiplin
Melainkan kurangi beban dalam mengambil keputusan.. ❌ Setiap senin 500 kata blog (disiplin) ✅ Menulis blog 75 kata (mengurangi beban action)
Bukan menambah disiplin
Menakjubkan
Di sebuah ruangan yang berisi lebih dari lima ribu orang, dengan suasana ingar-bingar. Di tempat duduk, aku merasakan tubuhku mulai lemas. Suhu tubuh perlahan naik. Aku demam. Aku tidak boleh pingsan disini. Ini konyol. Ku lipat kedua tangan, membentuk posisi bersedekap. Menutup mata. Mengatur nafas. Perlahan tapi pasti, aku memasuki keheningan. Suara-suara mulai terasa jauh, hingga senyap. Entah berapa lama, ketika membuka mata kembali. Tubuhku sudah tidak demam lagi. Aku baik-baik saja. Tiba saat pembagian nasi box. Temanku ada yang tidak kebagian. Aku berikan jatah nasiku padanya. Kemudian aku keluar gedung untuk membeli nasi, sebagai ganti nasi yang telah ku berikan pada temanku tadi. Suasana sangat crowded. Di sepanjang jalan aku terheran. Kemana diriku yang lemas dan tidak berdaya tadi? Yang demam dan hampir pingsan. Sekarang, aku bahkan punya tenaga untuk berjalan jauh —menerobos ratusan atau mungkin ribuan orang— untuk menjemput nasiku. Ah, ini menakjubkan!
3
0
Menakjubkan
Fajar yang Mengajar Tenang
Fajar datang perlahan di tepi pantai ini. Tanpa gaduh. Tanpa tergesa. Hanya cahaya lembut yang menyentuh air seperti sapaan pertama pada hari yang baru. Perahu-perahu masih diam, seolah sedang mengumpulkan niat sebelum kembali berlayar. Seperti manusia yang belajar bernapas dulu sebelum memulai lagi. Langit belum biru sempurna. Awan masih menggantungkan sisa mimpi malam. Tapi di sela-selanya, harapan mulai menyelinap. Pasir masih dingin. Udara masih jujur. Belum tercampur ambisi, belum dipenuhi tuntutan. Deretan pohon kecil berdiri tenang, mengajarkan bahwa tumbuh tak perlu ribut. Cukup setia pada proses. Di pagi seperti ini, aku tidak menyusun rencana besar. Aku hanya berkata dalam hati: “Hari ini, aku hadir sepenuhnya.” Dan itu sudah cukup untuk memulai segalanya.
3
0
Fajar yang Mengajar Tenang
1-30 of 40
powered by
BerkembangBersama
skool.com/berkembangbersama-4564
Ruang tenang untuk menenangkan pikiran dan kembali bergerak dengan lebih jernih.
Build your own community
Bring people together around your passion and get paid.
Powered by