Di sebuah ruang tinggi dengan jendela-jendela besar yang menghadap kota, waktu seolah berjalan lebih lambat. Langit menggantung kelabu, awan berarak pelan seperti pikiran-pikiran yang belum selesai. Meja-meja kayu berdiri rapi, kursi-kursi menunggu tanpa suara. Tidak ada riuh, tidak ada tergesa. Hanya keheningan yang setia menemani. Di tempat itu, banyak orang pernah duduk membawa cerita masing-masing. Ada yang datang dengan harapan, menatap keluar sambil membayangkan masa depan. Ada yang datang dengan luka, menyembunyikannya di balik secangkir kopi hangat. Ada pula yang hanya ingin berhenti sejenak, melepaskan dunia yang terlalu bising. Ruang ini bukan sekadar kafe. Ia adalah persinggahan batin. Di balik kaca, kota terus bergerak: kendaraan berlomba, manusia berkejaran, ambisi berteriak. Namun di dalam sini, semua itu meredup. Seolah tempat ini berbisik: “Tak apa jika kau lelah. Tak apa jika kau belum tahu arah. Tak apa jika hari ini kau hanya ingin diam.” Lantai kayu menyimpan langkah-langkah yang pernah ragu. Kursi-kursi menyimpan doa-doa yang tak terucap. Jendela-jendela menyimpan pandangan orang-orang yang sedang belajar menerima hidup apa adanya. Dan langit di luar sana kadang cerah, kadang muram seperti hati manusia: tak pernah selalu sama, namun selalu layak dihargai. Di suatu sore, seseorang duduk sendiri di sudut ruangan. Bukan karena kesepian, melainkan karena sedang berdamai. Ia tak lagi menuntut jawaban. Tak lagi memaksa keadaan. Ia hanya bernapas, memandang jauh, dan mengizinkan dirinya hadir sepenuhnya. Saat itu, ia sadar: Hidup bukan tentang selalu terang. Bukan tentang selalu menang. Melainkan tentang berani duduk di tengah ketidakpastian, dan tetap memilih untuk percaya. Bahwa setelah mendung, selalu ada ruang bagi cahaya. Bahwa setelah lelah, selalu ada tempat untuk pulang entah di sebuah tempat sunyi, atau di dalam hati sendiri.