User
Write something
Kunci Semua: Dekat Dulu dengan Diri Sendiri
Jika sudah menerima diri seutuhnya: - Tidak perlu mengubah orang - Tidak mudah tersinggung - Tidak takut ditinggal - Tidak takut menerima bantuan Cinta jadi ringan, bukan melelahkan.
Kunci Semua: Dekat Dulu dengan Diri Sendiri
Bertumbuh
Di halaman kecil itu, berdirilah sebuah pohon tua yang seolah menjadi penjaga waktu. Batangnya tebal, dipeluk oleh lumut dan pakis yang tumbuh seperti rambut hijau yang tak pernah dipotong. Cabang-cabangnya merentang luas, memayungi siapa pun yang singgah di bawahnya. Setiap pagi, sinar matahari menyelinap di sela daunnya, jatuh perlahan seperti doa yang turun dari langit. Angin berbisik di antara ranting, membawa cerita-cerita lama: tentang hujan yang pernah mengamuk, tentang musim kering yang menguji kesabaran, tentang manusia-manusia yang datang dan pergi. Di bawah pohon itu, dua sangkar burung tergantung diam. Burung-burung di dalamnya sering bernyanyi, seolah sedang berbincang dengan dedaunan. Kadang, lagu mereka terdengar seperti tawa. Kadang seperti rindu. Pohon itu selalu mendengarkan, tanpa pernah menjawab. Seorang lelaki sering duduk di bangku dekat sana setiap sore. Ia datang membawa secangkir kopi dan pikiran yang penuh. Ia tak pernah berbicara pada siapa pun, kecuali pada pohon itu. Dalam diam, ia menitipkan lelahnya, kegagalannya, juga harapannya. “Aku capek,” bisiknya suatu hari. Daun-daun bergoyang pelan. Seolah menjawab: Aku juga pernah rapuh, tapi aku tetap berdiri. Hari demi hari, lelaki itu berubah. Ia tak lagi datang dengan bahu runtuh. Langkahnya lebih ringan. Senyumnya lebih sering muncul. Pohon tua itu tetap di sana, setia menjadi tempat pulang bagi jiwa yang lelah. Dan di halaman kecil itu, orang-orang mungkin hanya melihat pohon besar yang dipenuhi tanaman liar. Tapi bagi mereka yang pernah duduk di bawahnya, itu adalah tempat belajar tentang bertahan, tentang diam yang menyembuhkan, tentang hidup yang terus tumbuh meski pernah terluka.
2
0
Bertumbuh
Aku Membesarkan Anak, Sambil Membesarkan Diriku Sendiri
Jujur aja… aku membesarkan mereka sambil membesarkan diriku sendiri. 🥹☺️ 20 tahun bayangin, bahkan saat aku gendong bayi Dhia sering dikatain "Anak kecil gendong anak kecil" 😂 Hari-hari awal jadi ibu itu nggak romantis seperti di film. Aku masih sangat muda. Bingung. Takut. Capek. Tapi harus kelihatan “kuat” karena ada dua anak kecil yang bergantung padaku. Mereka yang nemenin aku di fase itu. Saat aku belum tahu caranya jadi orang tua, belum paham soal luka batin, bahkan belum sempat mengenal diriku sendiri secara utuh. Nggak ada yang ngajarin gimana caranya mengasuh anak sambil mengasuh diri sendiri. Nggak ada buku panduan tentang gimana caranya nggak ngulang pola yang dulu bikin aku terluka. Nggak tau bagaimana memeluk luka batin, bahkan 'emosi' pun aku tak bisa menamainya dengan benar. Nggak ada yang ngasih tahu kalau mengekspresikan emosi itu boleh. Aku sering salah. Sering capek. Kadang emosiku berantakan. Tapi di tengah semua itu, aku bertekad: inner child, patriarki... cukup berhenti di aku. Kalau hari ini aku belajar lebih mindful, lebih sadar, dan lebih mau minta maaf, itu karena aku mau mereka tumbuh tanpa beban yang sama. Terima kasih sudah tumbuh bareng ibu. Terima kasih sudah nemenin aku belajar, jatuh, lalu bangun lagi. Kita nggak sempurna, tapi kita sama-sama berusaha. Dan itu… sudah lebih dari cukup. 🤍
Aku Membesarkan Anak, Sambil Membesarkan Diriku Sendiri
Orang tidak butuh di rubah
Orang hanya butuh di terima seutuhnya oleh kita.. (Geser untuk pdf dan executive summary)
5
0
Orang tidak butuh di rubah
1-30 of 45
powered by
BerkembangBersama
skool.com/berkembangbersama-4564
Ruang tenang untuk menenangkan pikiran dan kembali bergerak dengan lebih jernih.
Build your own community
Bring people together around your passion and get paid.
Powered by