Activity
Mon
Wed
Fri
Sun
Mar
Apr
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
Jan
Feb
What is this?
Less
More

Memberships

BerkembangBersama

58 members • Free

16 contributions to BerkembangBersama
Bertumbuh
Di halaman kecil itu, berdirilah sebuah pohon tua yang seolah menjadi penjaga waktu. Batangnya tebal, dipeluk oleh lumut dan pakis yang tumbuh seperti rambut hijau yang tak pernah dipotong. Cabang-cabangnya merentang luas, memayungi siapa pun yang singgah di bawahnya. Setiap pagi, sinar matahari menyelinap di sela daunnya, jatuh perlahan seperti doa yang turun dari langit. Angin berbisik di antara ranting, membawa cerita-cerita lama: tentang hujan yang pernah mengamuk, tentang musim kering yang menguji kesabaran, tentang manusia-manusia yang datang dan pergi. Di bawah pohon itu, dua sangkar burung tergantung diam. Burung-burung di dalamnya sering bernyanyi, seolah sedang berbincang dengan dedaunan. Kadang, lagu mereka terdengar seperti tawa. Kadang seperti rindu. Pohon itu selalu mendengarkan, tanpa pernah menjawab. Seorang lelaki sering duduk di bangku dekat sana setiap sore. Ia datang membawa secangkir kopi dan pikiran yang penuh. Ia tak pernah berbicara pada siapa pun, kecuali pada pohon itu. Dalam diam, ia menitipkan lelahnya, kegagalannya, juga harapannya. “Aku capek,” bisiknya suatu hari. Daun-daun bergoyang pelan. Seolah menjawab: Aku juga pernah rapuh, tapi aku tetap berdiri. Hari demi hari, lelaki itu berubah. Ia tak lagi datang dengan bahu runtuh. Langkahnya lebih ringan. Senyumnya lebih sering muncul. Pohon tua itu tetap di sana, setia menjadi tempat pulang bagi jiwa yang lelah. Dan di halaman kecil itu, orang-orang mungkin hanya melihat pohon besar yang dipenuhi tanaman liar. Tapi bagi mereka yang pernah duduk di bawahnya, itu adalah tempat belajar tentang bertahan, tentang diam yang menyembuhkan, tentang hidup yang terus tumbuh meski pernah terluka.
2
0
Bertumbuh
Aku Membesarkan Anak, Sambil Membesarkan Diriku Sendiri
Jujur aja… aku membesarkan mereka sambil membesarkan diriku sendiri. 🥹☺️ 20 tahun bayangin, bahkan saat aku gendong bayi Dhia sering dikatain "Anak kecil gendong anak kecil" 😂 Hari-hari awal jadi ibu itu nggak romantis seperti di film. Aku masih sangat muda. Bingung. Takut. Capek. Tapi harus kelihatan “kuat” karena ada dua anak kecil yang bergantung padaku. Mereka yang nemenin aku di fase itu. Saat aku belum tahu caranya jadi orang tua, belum paham soal luka batin, bahkan belum sempat mengenal diriku sendiri secara utuh. Nggak ada yang ngajarin gimana caranya mengasuh anak sambil mengasuh diri sendiri. Nggak ada buku panduan tentang gimana caranya nggak ngulang pola yang dulu bikin aku terluka. Nggak tau bagaimana memeluk luka batin, bahkan 'emosi' pun aku tak bisa menamainya dengan benar. Nggak ada yang ngasih tahu kalau mengekspresikan emosi itu boleh. Aku sering salah. Sering capek. Kadang emosiku berantakan. Tapi di tengah semua itu, aku bertekad: inner child, patriarki... cukup berhenti di aku. Kalau hari ini aku belajar lebih mindful, lebih sadar, dan lebih mau minta maaf, itu karena aku mau mereka tumbuh tanpa beban yang sama. Terima kasih sudah tumbuh bareng ibu. Terima kasih sudah nemenin aku belajar, jatuh, lalu bangun lagi. Kita nggak sempurna, tapi kita sama-sama berusaha. Dan itu… sudah lebih dari cukup. 🤍
Aku Membesarkan Anak, Sambil Membesarkan Diriku Sendiri
0 likes • 16h
Seru ya
Ruang Sunyi
Di sebuah ruang tinggi dengan jendela-jendela besar yang menghadap kota, waktu seolah berjalan lebih lambat. Langit menggantung kelabu, awan berarak pelan seperti pikiran-pikiran yang belum selesai. Meja-meja kayu berdiri rapi, kursi-kursi menunggu tanpa suara. Tidak ada riuh, tidak ada tergesa. Hanya keheningan yang setia menemani. Di tempat itu, banyak orang pernah duduk membawa cerita masing-masing. Ada yang datang dengan harapan, menatap keluar sambil membayangkan masa depan. Ada yang datang dengan luka, menyembunyikannya di balik secangkir kopi hangat. Ada pula yang hanya ingin berhenti sejenak, melepaskan dunia yang terlalu bising. Ruang ini bukan sekadar kafe. Ia adalah persinggahan batin. Di balik kaca, kota terus bergerak: kendaraan berlomba, manusia berkejaran, ambisi berteriak. Namun di dalam sini, semua itu meredup. Seolah tempat ini berbisik: “Tak apa jika kau lelah. Tak apa jika kau belum tahu arah. Tak apa jika hari ini kau hanya ingin diam.” Lantai kayu menyimpan langkah-langkah yang pernah ragu. Kursi-kursi menyimpan doa-doa yang tak terucap. Jendela-jendela menyimpan pandangan orang-orang yang sedang belajar menerima hidup apa adanya. Dan langit di luar sana kadang cerah, kadang muram seperti hati manusia: tak pernah selalu sama, namun selalu layak dihargai. Di suatu sore, seseorang duduk sendiri di sudut ruangan. Bukan karena kesepian, melainkan karena sedang berdamai. Ia tak lagi menuntut jawaban. Tak lagi memaksa keadaan. Ia hanya bernapas, memandang jauh, dan mengizinkan dirinya hadir sepenuhnya. Saat itu, ia sadar: Hidup bukan tentang selalu terang. Bukan tentang selalu menang. Melainkan tentang berani duduk di tengah ketidakpastian, dan tetap memilih untuk percaya. Bahwa setelah mendung, selalu ada ruang bagi cahaya. Bahwa setelah lelah, selalu ada tempat untuk pulang entah di sebuah tempat sunyi, atau di dalam hati sendiri.
2
0
Ruang Sunyi
Menyambut Senja
Di sore yang menggantung antara terang dan hujan, langit seolah sedang berpikir keras. Awan-awan kelabu berkumpul seperti ingatan yang belum selesai. Ada yang berat, ada yang perlahan luruh menjadi cahaya. Di bawahnya, air terhampar tenang seperti hati yang belajar menerima apa pun yang jatuh ke dalamnya. Di tepi tambak, sebuah pendopo berdiri diam. Ia tak bicara, tak bergerak, hanya setia menemani waktu. Setiap hari, ia menyaksikan manusia datang dengan rindu, pulang dengan lega, atau kadang pergi membawa tanya. Sore itu, seorang lelaki duduk sendirian. Ia tak sedang menunggu siapa pun. Ia sedang menunggu dirinya sendiri. Menunggu pikirannya berhenti berlari. Menunggu hatinya berhenti menuntut. Menunggu napasnya kembali pulang. Ia memandang pantulan awan di air. Aneh, pikirnya. Langit yang tampak kacau di atas, terlihat jauh lebih damai di bawah. “Mungkin,” bisiknya, “hidup juga begitu. Tidak perlu selalu diperbaiki. Kadang cukup dipantulkan… lalu disadari.” Angin bergerak pelan. Riak kecil muncul, lalu hilang. Seperti masalah yang datang sebentar, lalu larut jika tak dilawan. Di kejauhan, burung melintas. Awan mulai membuka celah cahaya. Tidak besar. Tidak dramatis. Tapi cukup. Cukup untuk mengingatkan: bahwa gelap tak pernah benar-benar berniat tinggal selamanya. Sore pun berjalan pergi. Dan lelaki itu pulang, bukan dengan jawaban, melainkan dengan ketenangan. Karena dia tahu: tak semua hal harus dimengerti, beberapa hanya perlu dihadiri.
3
0
Menyambut Senja
Fajar yang Mengajar Tenang
Fajar datang perlahan di tepi pantai ini. Tanpa gaduh. Tanpa tergesa. Hanya cahaya lembut yang menyentuh air seperti sapaan pertama pada hari yang baru. Perahu-perahu masih diam, seolah sedang mengumpulkan niat sebelum kembali berlayar. Seperti manusia yang belajar bernapas dulu sebelum memulai lagi. Langit belum biru sempurna. Awan masih menggantungkan sisa mimpi malam. Tapi di sela-selanya, harapan mulai menyelinap. Pasir masih dingin. Udara masih jujur. Belum tercampur ambisi, belum dipenuhi tuntutan. Deretan pohon kecil berdiri tenang, mengajarkan bahwa tumbuh tak perlu ribut. Cukup setia pada proses. Di pagi seperti ini, aku tidak menyusun rencana besar. Aku hanya berkata dalam hati: “Hari ini, aku hadir sepenuhnya.” Dan itu sudah cukup untuk memulai segalanya.
3
0
Fajar yang Mengajar Tenang
1-10 of 16
Samuel Adi Nugroho
3
21points to level up
@samuel-adi-nugroho-6888
Body Communication Resonance Head Facilitator

Active 2h ago
Joined Jan 15, 2026