Jujur aja… aku membesarkan mereka sambil membesarkan diriku sendiri. 🥹☺️
20 tahun bayangin, bahkan saat aku gendong bayi Dhia sering dikatain "Anak kecil gendong anak kecil" 😂
Hari-hari awal jadi ibu itu nggak romantis seperti di film.
Aku masih sangat muda.
Bingung. Takut. Capek.
Tapi harus kelihatan “kuat” karena ada dua anak kecil yang bergantung padaku.
Mereka yang nemenin aku di fase itu.
Saat aku belum tahu caranya jadi orang tua,
belum paham soal luka batin,
bahkan belum sempat mengenal diriku sendiri secara utuh.
Nggak ada yang ngajarin gimana caranya mengasuh anak sambil mengasuh diri sendiri.
Nggak ada buku panduan tentang gimana caranya nggak ngulang pola yang dulu bikin aku terluka.
Nggak tau bagaimana memeluk luka batin, bahkan 'emosi' pun aku tak bisa menamainya dengan benar.
Nggak ada yang ngasih tahu kalau mengekspresikan emosi itu boleh.
Aku sering salah.
Sering capek.
Kadang emosiku berantakan.
Tapi di tengah semua itu, aku bertekad:
inner child, patriarki... cukup berhenti di aku.
Kalau hari ini aku belajar lebih mindful,
lebih sadar, dan lebih mau minta maaf,
itu karena aku mau mereka tumbuh tanpa beban yang sama.
Terima kasih sudah tumbuh bareng ibu.
Terima kasih sudah nemenin aku belajar, jatuh, lalu bangun lagi.
Kita nggak sempurna,
tapi kita sama-sama berusaha.
Dan itu… sudah lebih dari cukup. 🤍