Di halaman kecil itu, berdirilah sebuah pohon tua yang seolah menjadi penjaga waktu. Batangnya tebal, dipeluk oleh lumut dan pakis yang tumbuh seperti rambut hijau yang tak pernah dipotong. Cabang-cabangnya merentang luas, memayungi siapa pun yang singgah di bawahnya.
Setiap pagi, sinar matahari menyelinap di sela daunnya, jatuh perlahan seperti doa yang turun dari langit. Angin berbisik di antara ranting, membawa cerita-cerita lama: tentang hujan yang pernah mengamuk, tentang musim kering yang menguji kesabaran, tentang manusia-manusia yang datang dan pergi.
Di bawah pohon itu, dua sangkar burung tergantung diam. Burung-burung di dalamnya sering bernyanyi, seolah sedang berbincang dengan dedaunan. Kadang, lagu mereka terdengar seperti tawa. Kadang seperti rindu. Pohon itu selalu mendengarkan, tanpa pernah menjawab.
Seorang lelaki sering duduk di bangku dekat sana setiap sore. Ia datang membawa secangkir kopi dan pikiran yang penuh. Ia tak pernah berbicara pada siapa pun, kecuali pada pohon itu. Dalam diam, ia menitipkan lelahnya, kegagalannya, juga harapannya.
“Aku capek,” bisiknya suatu hari.
Daun-daun bergoyang pelan. Seolah menjawab: Aku juga pernah rapuh, tapi aku tetap berdiri.
Hari demi hari, lelaki itu berubah. Ia tak lagi datang dengan bahu runtuh. Langkahnya lebih ringan. Senyumnya lebih sering muncul. Pohon tua itu tetap di sana, setia menjadi tempat pulang bagi jiwa yang lelah.
Dan di halaman kecil itu, orang-orang mungkin hanya melihat pohon besar yang dipenuhi tanaman liar.
Tapi bagi mereka yang pernah duduk di bawahnya,
itu adalah tempat belajar tentang bertahan,
tentang diam yang menyembuhkan,
tentang hidup yang terus tumbuh meski pernah terluka.