Activity
Mon
Wed
Fri
Sun
May
Jun
Jul
Aug
Sep
Oct
Nov
Dec
Jan
Feb
Mar
Apr
What is this?
Less
More

Memberships

BerkembangBersama

68 members • Free

6 contributions to BerkembangBersama
Momentum
Tahun 2026 ini diawali dengan rangkaian momen2 kebersamaan. Tahun baru berangkai dengan imlek lalu dilanjutkan dengan Nyepi, Idhul Fitri dan paskah secara bersamaan. Hari besar agama identik dengan kebersamaan. Kebersamaan dengan keluarga, teman, sahabat, kolega, tetangga dan utamanya dengan diri sendiri. Kebersamaan dengan diri sendiri? Memang di saat hari H perayaannya, kebersamaan yang terlihat dengan orang2 di sekitar kita, baik dengan orang2 terdekat sedarah, sehubungan pernikahan dan sehubungan sosial, namun kalau ditelaah kembali, setiap momennya selalu diawali dengan kebersamaan dengan diri sendiri. Tahun baru diawali dengan refleksi dan doa pengharapan untuk tahun depan. Inti maknanya ngobrol dengan diri sendiri. Menelaah langkah2 di tahun sebelumnya sebagai bentuk evaluasi dan bukan penghakiman. Moment imlek pun diawali dengan pembersihan. Dari seorang keluarga dan seorang teman yang merayakan imlek, saya jadi paham bahwa pembersihan rumah secara fisik menjelang imlek adalah perlambang pembersihan diri. Konon katanya, mereka mengikhlaskan barang2 lama yang sudah tidak terpakai untuk disalurkan ke tempat lain yang lebih relevan, baik disalurkan ke orang yang membutuhkan maupun disalurkan ke TPA sebagai tempat peristirahatannya. Kalau diperhatikan, ritual ini membuat pelakunya kembali ke dalam, ngobrol dengan diri untuk memilah mana barang yang masih digunakan dan mana yang sudah tidak terpakai atau sudah tidak relevan. Bukankah ini butuh pelepasan emosi lama juga sekaligus pemaafan diri? Di samping itu ada proses pelatihan untuk tidak menghakimi diri di masa lalu, bukan? Konon Nyepi diawali dengan melasti, catur kesanga dan prosesi bertapa di dalam rumah. Artinya adalah refleksi diri dan kembali dekat dengan diri sendiri. Ada proses validasi ke diri sendiri termasuk bagian shadow diri di sini yang dilambangkan dengan prosesi melasti atau pemberisan dengan air dan pawai ogoh2 yang kemudian dibakar. Ogoh2 yang dibuat dengan budget jutaan, dibakar? Bukankah itu butuh pelepasan pada kemelekatan juga? Konon selepas 24 jam proses bertapa, dilakukan prosesi ngembak geni yaitu saling berkunjung dan memaafkan.
2
0
Misteri Fenomena Kereta Wuzz
Pernah enggak sih, kita bertemu atau menyaksikan orang yang ngomongnya tanpa jeda dan muter2 bak wahana kicir-kicir? Kadang, ya? Atau hampir tiap hari? Hehehe...saya juga. Kalau enggak salah reaksi dalam diri kita tuh, kesel, ya? Sama. Hehehehe...lagi. Lalu kalau di saya dulu, yang muncul itu pernyataan dalam hati,"Ih, apaan, sih? Sana, sana, minggir!". Next time dia muncul lagi dengan bentukannya yang sama, munculnya beda,"Hah...okay aku dengarkan tapi sejam aja, ya.". Asatafirulloh, dia muncul lagi. Sungguh, apa tujuan orang macam ini muncul, Tuhan? Wow...bukan hanya satu, saudara. Ada beberapa. Ya kan, ya kan, auto muncul "Kalau enggak salah, Bapak yang enggak mau dibilang bikin cult itu, pernah bilang, cek dulu energinya, hadirkan, peluk, tanya apa yang belum kita lihat dari kehadiran orang ini. Eh, jadi ingat kata2 Geg Gaura, "Apa pesan semesta kepada saya lewat orang ini?". Kalau exactly kalimatnya apa enggak gitu, maap ya, Geg Gaura. Well, take a deep breath. Yes, melalui proses di atas dan...voala? Yang ketemu adalah..."Itu kayak siapa, tuh? Yang kalau muncul kondisi enggak enak, buru2 menganalisa dan pingin segera "membasminya"? Yeee... ". Weii...iya, itu saya sediri. Duh, thank you ya, sudah memfasilitasiku. I love u. Muuuaccchhh...Lanjut proses berkembangnya yuuuk. Enggak ada garis finish yang sedang kita tuju, kan. Love. 🥰
3
0
Batas
Di tepi sebuah meja, jeruk itu berhenti—seolah memilih diam di batas. Kulitnya oranye terang, bulat sempurna, namun ia tidak berada di tengah. Ia berada pinggir seolah sudah memilih tempatnya, tempat di mana satu gerakan kecil bisa menjatuhkannya. Dua daun hijau masih menempel, seperti sepasang tangan yang belum rela melepaskan masa lalu. Batangnya condong ke atas, rapuh tapi berani, menantang keseimbangan. Tak ada yang tahu berapa lama ia di sana. Mungkin baru saja diletakkan. Mungkin sudah lama menunggu. Yang jelas, jeruk itu tidak tergesa. Ia paham: hidup bukan soal aman di tengah, tapi berani sadar di ambang. Cahaya menyentuh kulitnya dengan lembut, mempertegas kontras—gelap di belakang, terang di depan. Seperti perjalanan manusia: bayangan selalu ada, namun rasa manis hanya muncul saat kita matang dan hadir sepenuhnya. Jeruk itu tidak takut jatuh. Ia tahu, bahkan jika jatuh dan pecah, aromanya akan menyebar. Dan bukankah itu juga bentuk memberi? Di tepi itu, jeruk mengajarkan satu hal sederhana: kadang, keseimbangan bukan tentang bertahan, melainkan tentang percaya pada momen selanjutnya. 🍊🌿
Batas
1 like • Jan 21
Thanks for the Point o U, Uncle Sam.
Bantalan Sandal
Jadi ceritanya, hari ini si tante lagi belajar sama bocil yang seusia SMP gitu lah ya.. Kadang di usia tante-tante ini (aku) masih mikir "pendapat dan omongan" orang untuk sekedar melakukan hal-hal sederhana. Bahkan hal-hal yang kaitannya sama kenyamanan diri sendiri. Lalu di sebuah angkringan tempat si tante berteduh dari hujan badai, si bocil dan kawanannya ini mengajarkan si tante tentang: TAKE IT EASY! Simple aja momen-nya, visual si tante menangkap pemandangan si bocil bantalan sandal untuk bersantai. Naruh sandal kotornya di kepala. Sebuah upaya membuat nyaman diri sendiri tanpa perlu mikir: "Ntar dilihat orang gimana?" atau "Itu kan kotor?" Semacam si bocil tuh in my point of view bisa BODO AMAT. Ya iya sih, kadang si tante bisa ovt buat hal-hal sederhana. Dan si tante ini bilang to her self: "You’ve been working too hard. Take it easy." Haha.. thank you bocil! You're so chill!
Bantalan Sandal
0 likes • Jan 20
Tuh kan, mereka memang semerdeka itu. Menyodok ego . Btw jadi ingat moment si tante coba ayun akar beringin. 🤔😉😄
Merindukan Kesepian
Sore ini terlihat terang untuk pukul 17.30 di Sidoarjo. Hari ini aktivitasnya out of the box. Baru saja ikut workshop make up di cafe sebelah, bisanya bela-belain ngikut yang di Sidoarjo, padahal yang di Surabaya juga banyak event sejenis. Selain itu, juga tiba-tiba maunya ikut yang kelas make up lagi, yg bukan my forte at all. Belum mau pulang, jadi pindah ngafe ke cafe tetangga. Yang best nya, cafe lagi sepi. Nice cafe concept, dan pas order, makanan dan minuman fast serving, dan tastenya ok. No complaint at all. Setelah perut kenyang nih, timbul kesadaran mensyukuri seluruh perjalanan hari ini. Feel relax, but then....kok muncul rasa yang ngangenin, tapi kok ya bukan rasa yang seharusnya utk dinantikan kedatangannya. Setelah takes time for a seconds, disadari itu rasa KESEPIAN. Lhooooo, ga keliru kah? Kesepian kok dirindukan. Tapi, proses menyadari lagi, ga ada penyesalan. Dibiarkan mengalir....tapi aneh ya. Sebenarnya what's going on with me, ada yg bisa kasih pencerahan kah? Atau ada yg pernah ngalamin hal yang sama? Terus waktu itu, nextnya apa yg terjadi? Wondering...wondering .....
1 like • Jan 20
Pernah juga kayak gitu beberapa kali. Aku validasi saja kehadirannya dan peluk dia sambil bilang kalau sekarang realitanya berbeda. Setelah itu kadang malah muncul akar2nya dari masa lalu. Hehehe...ya validasi dan peluk mereka semua. Ho'oponopono muncul. Pernah juga, tertawa, sebab sebelumnya ada dinding separasi yang naik tanpa disadari. Jadi ingat kata Pak Rahmat bahwa tidak ada titik akhir yang dituju dan kata PakEliot bahwa apa yang kita sebut permulaan adalah akhir dan untuk membuat akhir maka ada permulaan.
1-6 of 6
Dwi Sunaryati
2
11points to level up
@dwi-sunaryati-5513
Awarness is a step by step process taht has no end. Thank you for my self who is willing to go through this Alhamdulillah.

Active 17h ago
Joined Jan 15, 2026
Malang