Momentum
Tahun 2026 ini diawali dengan rangkaian momen2 kebersamaan. Tahun baru berangkai dengan imlek lalu dilanjutkan dengan Nyepi, Idhul Fitri dan paskah secara bersamaan. Hari besar agama identik dengan kebersamaan. Kebersamaan dengan keluarga, teman, sahabat, kolega, tetangga dan utamanya dengan diri sendiri.
Kebersamaan dengan diri sendiri? Memang di saat hari H perayaannya, kebersamaan yang terlihat dengan orang2 di sekitar kita, baik dengan orang2 terdekat sedarah, sehubungan pernikahan dan sehubungan sosial, namun kalau ditelaah kembali, setiap momennya selalu diawali dengan kebersamaan dengan diri sendiri.
Tahun baru diawali dengan refleksi dan doa pengharapan untuk tahun depan. Inti maknanya ngobrol dengan diri sendiri. Menelaah langkah2 di tahun sebelumnya sebagai bentuk evaluasi dan bukan penghakiman.
Moment imlek pun diawali dengan pembersihan. Dari seorang keluarga dan seorang teman yang merayakan imlek, saya jadi paham bahwa pembersihan rumah secara fisik menjelang imlek adalah perlambang pembersihan diri. Konon katanya, mereka mengikhlaskan barang2 lama yang sudah tidak terpakai untuk disalurkan ke tempat lain yang lebih relevan, baik disalurkan ke orang yang membutuhkan maupun disalurkan ke TPA sebagai tempat peristirahatannya. Kalau diperhatikan, ritual ini membuat pelakunya kembali ke dalam, ngobrol dengan diri untuk memilah mana barang yang masih digunakan dan mana yang sudah tidak terpakai atau sudah tidak relevan. Bukankah ini butuh pelepasan emosi lama juga sekaligus pemaafan diri? Di samping itu ada proses pelatihan untuk tidak menghakimi diri di masa lalu, bukan?
Konon Nyepi diawali dengan melasti, catur kesanga dan prosesi bertapa di dalam rumah. Artinya adalah refleksi diri dan kembali dekat dengan diri sendiri. Ada proses validasi ke diri sendiri termasuk bagian shadow diri di sini yang dilambangkan dengan prosesi melasti atau pemberisan dengan air dan pawai ogoh2 yang kemudian dibakar. Ogoh2 yang dibuat dengan budget jutaan, dibakar? Bukankah itu butuh pelepasan pada kemelekatan juga? Konon selepas 24 jam proses bertapa, dilakukan prosesi ngembak geni yaitu saling berkunjung dan memaafkan.
Lalu Idhul Fitri bersamaan yang diawali dengan puasa Ramadhan selama 30 hari dengan rangkaian tarawih, zakat plus infaq dan i'tikaf atau duduk bersama dengan diri di dalam masjid. Ini adalah prosesi atau ritual kembali ke dalam diri tanpa meninggalkan aktifitas sosial. Kebiasaan makan pagi, makan siang, minum serta ngemil (termasuk merokok dan ngevape) di siang hari dan mengekspresikan emosi secara brutal diubah dengan kebiasaan baru. Bukankah itu juga mengisyarakatkan pelepasan pada kemelekatan pada kebiasaan lama, satu paket dengan respond emosi dan POV lama.
Pun saat paskah sebagai moment pengingat tentang pengorbanan Yesus dan kebangkitan Yesus lewat prosssi minggu palma, kamis putih, Jumat agung, Sabtu suci dan Minggu paskah. Bukankah ada proses refleksi diri yang artinya ada proses validasi semua bagian diri beserta shadownya? Teladan Yesus untuk "pengorbanan" berupa pelepasan dari. kemelekatan pada bagian diri yang sudah tidak relevandari untuk bangkit menjadi pribadi yang lebih upgradding. Sebuah perayaan yang pada tiap momen ritualnya diadakan doa di gereja yang artinya ada kebersamaan dengan diri dan relasi sosial.
Begitulah sebuah perspektif pribadi dari kehadiran moment2 perayaan2 agama di atas. Bersyukur masing2 dari kita punya kesempatan yang sama dengan teknik (modalitas) yang berbeda untuk kembali ke dalam diri dan lebih dekat dengan diri sendiri. Selamat merayakan kedekatan dengan diri sendiri, kemedekaan untuk kita semua dari semua yang sudah tidak relevan lagi dengan kita.
Seperti kata seseorang hampir setiap Minggu dan Rabu malam di zoom sebuah grup, banyak modalitas ditawarkan oleh semesta, pastikan pilihan pada modalitas yang semakin membuat kita semakin kembali ke dalam diri.
Sabbe satta bhavantu sukitatta. 🙏 Sebentar lagi momen trisuci Waisak datang, sebuah perayaan lain kembali ke dalam diri beserta pelepasan pada kemelekatan. Alhamdulillah.
Selamat menikmati.
Wassalam.
2
0 comments
Dwi Sunaryati
2
Momentum
powered by
BerkembangBersama
skool.com/berkembangbersama-4564
Ruang tenang untuk menenangkan pikiran dan kembali bergerak dengan lebih jernih.
Build your own community
Bring people together around your passion and get paid.
Powered by